Merebaknya Nirempati Terhadap Presiden yang Paling Empati Sangat Tidak Patut Terjadi di Republik Ini

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 28 Maret 2025 - 10:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Prabowo Subianto. (Dok. Partai Gerindra)

Presiden Prabowo Subianto. (Dok. Partai Gerindra)

JAKARTA – Tadi malam, saat sebagian dari kita sibuk beribadah, beberapa saudara kita sesama WNI mengujarkan pembunuhan Presiden Prabowo di X.

“Someone couldve pulled a jfk… just saying” ujar @paraworkz, disahut akun terverifikasi @mii_mishka “gak ada yang mau headshot kepalanya @prabowo??? I bet we have the best underground sniper”.

Mereka mengomentari foto Presiden Prabowo yang berdiri di mobil Maung untuk menyapa supporter tim nasional Indonesia di GBK.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdiri di mobil yang sedang berjalan, menyapa melalui sunroof adalah kebiasaan Prabowo setiap sedang lajur dan ada yang memanggilnya.

Seperti saya, setiap pembantu yang mengikuti keseharian Presiden pasti menangis membaca celotehan di X seperti ini.

Menangis karena kerja seorang Presiden yang kami saksikan setiap hari penuh empati.

Mungkin karena tidak terkomunikasikan dengan baik – bisa timbul nirempati sebagian warganya kepadanya.

Cerita di Balik Berbagai Kebijakan: Mindset Presiden Sebagai Ayah Semua

Seringkali dalam memutuskan sesuatu, Presiden Prabowo mengajak para pembantunya untuk berandai: what if anak kandung kita meminta pada kita – apa jawaban kita.

Dalam setiap kasus, kami bersaksi Presiden selalu tegas memilih yang terbaik untuk anak dan negara.

Walau seringkali menyulitkan para pembantunya karena jadi tambahan pekerjaan yang tidak mudah dilaksanakan.

Berikut beberapa contoh dialog imajiner yang terjadi di ruang-ruang Istana.

Contoh 1:

“Ayah, aku masih belajar di sekolah. Aku lapar. Aku tidak bisa konsentrasi di sekolah. Ada puluhan juta anak sepertiku.”

Presiden Prabowo tidak merespons dengan kata-kata begini:

“Maaf nak, walau MBG universal jadi anjuran WFP PBB terlaksana sebelum 2030 karena MBG terbukti investasi terbaik Pemerintah, APBN tahun ini tidak cukup untuk semua anak dapat.”

Tapi respons Presiden Prabowo, begini:

“Baik nak, ayah sudah cek langsung ke Kemenkeu. Ayah sisir anggaran sampai satuan terkecil.”

“Ayah realokasi anggaran kurang berdampak agar kamu bisa makan. Kita targetkan semua bisa terima MBG akhir tahun ini.”

Contoh 2:

“Ayah, aku takut di sekolah. Gedung sekolahku mau rubuh. Sudah lama rusak. Ada ratusan ribu kelas seperti kelasku.”

Presiden Prabowo tidak merespons dengan kata-kata begini:

“Maaf nak, perbaikan sekolah utamanya tugas Pemerintah Daerah. Ayah hanya bisa himbau.”

Tapi respons Presiden Prabowo, begini:

“Baik nak, tanggung jawab renovasi sekolah sekarang dikerjakan juga oleh Pemerintah Pusat.”

“Tahun ini ayah sudah alokasikan anggaran renovasi sekolah terbesar sepanjang sejarah Republik berdiri.”

“Kita kawal langsung renovasi, dan upayakan semua tuntas dalam 5 tahun.”

Contoh 3:

“Ayah, aku harus jalan belasan km setiap hari untuk sekolah SMP. Tidak ada SMP di kampungku. Aku mau putus sekolah saja, aku capek.”

Presiden Prabowo tidak merespons dengan kata-kata begini:

Maaf nak, pembangunan SMP bukan tugas Pemerintah Pusat. Ayah hanya bisa himbau Bupati Walikota.”

Tapi respons Presiden Prabowo, begini:

“Baik nak, Pemerintah Pusat turun tangan. Segera konversi fasilitas idle Pemerintah Pusat jadi Sekolah Rakyat. Semua berasrama, terintegrasi SD sampai SMA.

Semua anak tidak mampu bisa sekolah di sini. Karena berasrama, tidak harus pulang setiap hari. Makan minum disediakan.

Semua biaya ditanggung negara untuk anak dari keluarga tidak mampu. Insya Allah tahun ini kita buka 200 sekolah, 60 bulan Juli.”

Contoh 4:

“Ayah, aku sudah jadi relawanmu 15 tahun. Sudah 3x pilpres aku membantumu. Aku ingin jadi komisaris bank BUMN”*

Presiden Prabowo tidak merespons dengan kata-kata begini:

“Baik nak, walau kamu bukan profesional bank kamu bisa jadi komisaris bank BUMN”

Tapi respons Presiden Prabowo, begini:

“Tidak bisa nak, bank BUMN harus dikelola secara profesional. Jumlah komisaris terlalu banyak.

Kita turunkan jumlah komisaris 50%. Komisaris harus profesional dan perwakilan KL terkait. Ayah harus pentingkan kepentingan negara.”

Display of Affection Presiden Prabowo

Akhir-akhir ini beredar meme “laki-laki tidak bercerita”. Bagi kami yang mengikuti keseharian Presiden, meme ini seakan dibuat untuk seorang Presiden Prabowo.

“Prabowo tidak bercerita”…  banyak sekali bahan yang bisa dibuat dengan opening ini.

Namun bagi seorang Presiden Prabowo-pun yang pernah mengabdi 24 tahun di TNI, menyembunyikan empati secara publik ada batasnya.

Publik sempat melihat Presiden menangis di Hari Guru. Presiden mengaku ingin tingkatkan gaji guru lebih tinggi, tapi belum mampu.

Presiden juga sempat terekam kamera menangis di Wisuda UNHAN, karena dari 60.000 yang mendaftar fakultas kedokteran UNHAN hanya 300 yang bisa diterima karena keterbatasan ruang dan beasiswa.

Semoga dengan kesadaran dan upaya para pembantu Presiden memperbaiki komunikasi Pemerintah.

Jangan lagi nirempati terhadap Presiden super empati itu  terjadi lagi.

Menjadi tugas kami yang sehari-hari bersama Presiden untuk menceritakan empati Presiden. Aamiin (DS).***

Berita Terkait

PPWI Gelar Seminar Nasional dan Rakernas Dalam Rangka HUT ke-18, Wilson Lalengke : Perkuat Peran Pewarta Warga di Era Digital
GPK RI Minta Warga Tak Terprovokasi: Hati-Hati Pengalihan Isu!
Kalimantan dalam Kepungan Api, Negara Gagal Baca Sinyal Krisis Ekologis
Prabowo Kenang Kwik Kian Gie: Pejuang Ekonomi Pancasila dan Pasal 33 UUD 1945
Kekerasan di Padang Sarai: Mediasi dan Proses Hukum Berjalan Beriringan, Dr Yuspan Zalukhu Angkat Bicara
Pemeriksaan Dirut Indomarco KPK Tunjukkan Lemahnya Pengawasan Bansos COVID-19
Prabowo: Negara Harus Hadir Lawan Mafia Beras yang Bikin Rakyat Miskin
Hubungan Indonesia-Uni Eropa Memasuki Babak Baru Lewat Kemudahan Visa WNI

Berita Terkait

Selasa, 11 November 2025 - 16:21 WIB

PPWI Gelar Seminar Nasional dan Rakernas Dalam Rangka HUT ke-18, Wilson Lalengke : Perkuat Peran Pewarta Warga di Era Digital

Jumat, 29 Agustus 2025 - 22:38 WIB

GPK RI Minta Warga Tak Terprovokasi: Hati-Hati Pengalihan Isu!

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:46 WIB

Kalimantan dalam Kepungan Api, Negara Gagal Baca Sinyal Krisis Ekologis

Kamis, 31 Juli 2025 - 09:12 WIB

Prabowo Kenang Kwik Kian Gie: Pejuang Ekonomi Pancasila dan Pasal 33 UUD 1945

Selasa, 29 Juli 2025 - 21:27 WIB

Kekerasan di Padang Sarai: Mediasi dan Proses Hukum Berjalan Beriringan, Dr Yuspan Zalukhu Angkat Bicara

Berita Terbaru