Home / HOT NEWS

Minggu, 1 Mei 2022 - 11:34 WIB

Manusia Gurun dan Profesor Otak Kecil

Tokoh pers nasional, Dhimam Abror Djuraid. (Dok. Indonesiaraya.co.id)

Tokoh pers nasional, Dhimam Abror Djuraid. (Dok. Indonesiaraya.co.id)

HELLO – Rasmus Paludan ialah politisi Swedia yang menganut garis politik sayap kanan yang sangat anti-Islam.

Ia melakukan demo bersama beberapa pengikutnya dengan membakar Alqur’an. Tindakan ini menyulut kemarahan masyarakat mulsim Swedia dan Eropa.

Di Indonesia Prof Budi Santoso, gurubesar di Institut Teknologi Kalimantan (ITK) menuai kritik luas dari publik karena postingannya di media sosial dinilai melecehkan Islam.

Postingan di Facebook itu sudah dihapus, tapi jejak digitalnya sudah telanjur menuai kritik dari publik dan netizen.

Prof. Budi dianggap melecehkan syariah Islam karena menyebut perempuan yang memakai hijab sebagai ‘’pakaian manusia gurun’’.

Ia juga dianggap melecehkan kalimat thayyibah seperti ‘’insyaallah, qadarullah, barakallah’’ sebagai ‘’kalimat langit’’. Ia juga menyebut negara-negara Islam tidak punya karya teknologi.

Kebencian terhadap Islam dan salah paham terhadap Islam menjadi fenomena yang berkepanjangan di Eropa dan berbagai penjuru dunia.

PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) Maret lalu sudah mengeluarkan resolusi anti-islamophobia untuk memerangi pandangan yang bias terhadap Islam.

Tetapi para politisi anti-Islam masih tetap banyak melakukan kampanye negatif secara terbuka terhadap Islam.

Kericuhan terjadi akhir pekan di Swedia untuk memprotes pembakaran Alquran oleh Rasmus Paludan.

Sejumlah korban cedera dengan tiga polisi menjadi korban. Paludan bukannya meminta maaf, malah menantang akan membakar lebih banyak Alquran lagi.

Tindakan ini ia anggap sebagai bagian dari ekspresi untuk memberi tahu publik bahwa Alquran adalah sumber kekerasan dan keterbelakangan.

Tindakan anti Islam masih menjadi fenomena yang luas di Eropa. Di Prancis Marine Le Pen politisi sayap kanan yang sangat anti-Islam baru saja dikalahkan oleh Emmanuel Macron dalam pemilihan presiden.

Tetapi, perolehan suara Le Pen yang mencapai 11 juta menunjukkan dukungan yang luas dari pemilih Prancis.

Macron menjadi presiden periode kedua untuk masa lima tahun ke depan. Tetapi tidak berarti umat Islam di Prancis bisa bernafas lega.

Baca Juga :   Wapres Maruf Amin Tanggapi Wacana Terkait Soal Pembubaran MUI

Macron tetap seorang politisi sekular-liberal yang tidak menghendaki ekspresi religius di ruang publik.

Kasus pelecehan Nabi Muhammad yang dilakukan oleh majalah Charlie Hebdo menjadi momen yang membuktikan bahwa Macron tidak akan bertindak keras terhadap pelecehan simbol Islam atas nama kebebasan berekspresi.

Atas nama kebebasan berpendapat Macron membela Charlie Hebdo dan menyerang Islam dengan menyebutnya sebagai agama yang sedang dilanda krisis di mana-mana.

Macron menegaskan tidak akan mengorbankan kebebasan berpendapat karena tekanan terorisme.

Seperti menyiram bensin pada api, pernyataan Macron menyulut protes di seluruh dunia Islam.

Seorang pemuda imigran Tunisia berusia 19 tahun Brahim Aoussaaoui merangsek dengan pisau ke sebuah gereja di Nice, Prancis, membunuh tiga orang.

Salah satunya digorok di leher. Polisi menembak mati Aoissaaoui dengan 14 peluru.

Salman Rushdie, novelis Inggris keturunan India pada 1989 membuat dunia Islam berang karena novelnya Ayat-Ayat Setan menjadikan Allah sebagai tokoh personifikasi seperti manusia.

Pemimpin Iran Ayatullah Khomeini mengeluarkan fatwa hukuman mati kepada Rushdie dan menuntut pemerintah Inggris menyerahkan Rushdie untuk dihukum mati.

Inggris melindungi Rushdie dan Iran pun memutus hubungan diplomatik dengan Inggris.

Khomeini sudah meninggal, tapi fatwa hukuman mati itu tidak pernah dicabut dan tetap berlaku sampai sekarang.

Pembakaran Alqur’an oleh Rasmus Paludan dalah kasus terbaru benturan Barat dengan Islam.

Samuel Huntington pada 1990 merilis The Clash of Civilization benturan peradaban, antara lain menyebut benturan antara Barat yang Kristen dan Timur yang Islam.

Banyak yang tidak percaya terhadap tesis Huntington ini karena melihat kemesraan hubungan negara-negara Islam dengan Barat, seperti Arab Saudi yang mesra dengan Amerika.

Tapi, negara-negara Islam seperti Turki, Iran, dan Pakistan, tetap mempunyai hubungan tegang dengan Barat.

Setiap saat ketegangan itu bisa memicu perang terbuka yang fatal dan luas, karena Iran dan Pakistan punya nuklir, dan Turki punya kemampuan militer kuat dan bisa memengaruhi solidaritas negara-negara Islam lainnya.

Baca Juga :   Terkait Soal Bentrok Antar Ormas, Polisi Kumpulkan Bukti-bukti dari CCTV

Turki vs Prancis adalah musuh bebuyutan. Amerika Serikat vs Iran tidak pernah berhenti berseteru.

Ancaman perang terbuka bukan sesuatu yang ada di awang-awang. Benturan Barat vs Islam terjadi pada fundamennya.

Barat memberi kebebasan liberal individual dan sekuler seluas-luasnya. Sedangkan Timur menekankan kolektivitas dan spritualitas-religius.

Macron menegaskan akan mengawal kebebasan individual itu dan tak bakal menyerah terhadap tekanan dari mana pun karena dari Prancislah muncul cikal bakal kebebasan.

Revolusi Prancis pada 1789 dengan semboyan Libertè, Egalitè, Fraternitè; kebebasan, kesetaraan, persaudaraan memberikan kebebasan individual dari cengkeraman feodalisme absolut.

Dari Revolusi Prancis lahirlah konsep liberalisme individualisme yang sekuler.

Manusia mempunyai kebebasan dan kekuasaan mutlak atas nasibnya sendiri, bebas dari tekanan kekuasaan negara dan gereja.

Semangat liberalisme individualisme sekuler ini menular luas ke seluruh Eropa dan Amerika. Semangat ini pula yang mengilhami PBB (Persatuan Bangsa Bangsa) menyusun Deklarasi Hak-Hak Asasi Manusia (HAM) pada 1948.

Deklarasi HAM disebut sebagai deklarasi universal yang harus berlaku di seluruh penjuru dunia.

Deklarasi itu dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, dan karenanya kalangan Islam menolaknya.

Tetapi, sekarang PBB mengeluarkan resolusi anti-islamophobia yang membela hak-hak Islam dari kesalahpahaman Barat.

Luka lama akibat penjajahan kolonialisme-imperialisme Barat terhadap Timur selama ratusan tahun akan menjadi luka yang tak bakal mudah disembuhkan.

Barat tidak pernah merasa perlu meminta maaf atas perlakuan itu. Bahkan Barat merasa bahwa penjajahan merupakan kewajiban Barat untuk membuat Timur maju dan beradab.

Rudyard Kipling menyebutnya penjajahan itu sebagai “White Man’s Burden”, kewajiban manusia kulit putih terhadap bangsa kulit berwarna.

Justifikasi Kipling terhadap kolonialisme dan imperialisme ini dikecam keras oleh Edward Said.

Baca Juga :   Siap Jadi Motor Kebangkitan Ekonomi Pasca Pandemi, Pasar Legi Solo Beroperasi Lagi

Menelaah hubungan sastra dengan imperialisme, Said mengatakan bahwa karya-karya seni dan sastra Barat secara sengaja telah menjadi bagian dari propaganda Barat untuk menjadi pembenaran penjajahan Barat atas Timur.

Karya-karya film Hollywood sampai sekarang banyak yang menjadi propaganda pembenaran superioritas Barat atas Timur.

Demo yang luas terhadap Rasmus Paludan adalah pelampiasan kekecewaan atas kejahatan penjajahan Barat selama ratusan tahun yang tidak pernah berhenti dan tetap berlanjut sampai sekarang.

Di Indonesia benturan itu masih selalu bermunculan. Salah paham dan kecurigaan terhadap Islam meluas menjadi islamophobia yang mendalam.

Seorang gurubesar seperti Budi Santoso bisa membuat unggahan yang tidak sensitif terhadap umat Islam.

Menyebut hijab sebagai pakaian manusia gurun adalah tindakan yang tidak sensitif yang menunjukkan pola pikir yang tidak akomodatif terhadap perbedaan budaya.

Hijab yang menjadi identitas wanita muslim sering dilecehkan sebagai pakaian gurun karena bagian dari budaya Timur Tengah.

Budaya dan agama tidak bisa dipisahkan. Akulturasi budaya di Indonesia terjadi karena pengaruh agama.

Peci yang menjadi ciri nasional Indonesia juga dipakai oleh orang-orang India dan Pakistan.

Sarung yang menjadi salah satu pakaian khas santri juga dipakai oleh orang-orang Hindu dan Budha di India.

Bahasa Indonesia banyak sekali menyerap Bahasa Arab karena akulturasi. Lembaga tertinggi di Indonesia ‘’Dewan Perwakilan Rakyat’’ dan ‘’Majelis Permusyawaratan Rakyat’’ menyerap namanya dari bahasa Arab.

Ungkapan ‘’alhamdulillah’’ dan ‘’insyaallah’’ sudah menjadi bahasa sehari-hari yang tidak mungkin diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Ungkapan-ungkapan itu bukan ‘’bahasa langit’’ tapi sudah menjadi bahasa pergaulan sehari-hari.

Prof. Suteki dari Universitas Dipinegoro memperkenalkan istilah ”profesor otak kecil” atau ”Ocil” untuk menyebut akademisi bergelar guru besar tapi cara berpikirnya sempit.

Mungkin Budi Santoso termasuk di dalamnya? Terserah Anda.

Opini: Dhimam Abror Djuraid, mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos.***

Share :

Baca Juga

HOT NEWS

Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas II2 gunung Sindur Mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional 2022

HOT NEWS

Soal Penganiayaan yang Menimpa Wartawan Asep Paisal, PWI Minta Usut Tuntas

HOT NEWS

Publikasi Kinerja Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Tahun 2021

HOT NEWS

Disaksikan Puan Maharani, SDN 1 Sawahan Gelar vaksinasi Dosis Kedua bagi 258 Muridnya

HOT NEWS

Bahas Sinergitas TNI-Polri, Panglima TNI Bertemu Kapolri di Mabes Polri

HOT NEWS

Polri Ungkap Peran 13 Tersangka Jaringan Pinjol Ilegal Hingga Akibatkan Ibu Bunuh Diri

HOT NEWS

Polda Sumut Arrest Illegal Sellers of Pangolin Scales and Swallows Nest

HOT NEWS

Dampak Gempa M5,1: 1 Rumah Rusak Berat, 4 Rusak Sedang, 6 Rumah dan 1 Pesantren Rusak Ringan