JAKARTA – Pagi itu, ruang rapat Komisi IX DPR RI mendadak riuh. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.—dikenal dengan akronim BGS —melontarkan pernyataan yang memantik kontroversi.
“Pokoknya laki-laki kalau beli celana jeans masih di atas 32-33. Ukurannya berapa? 34? Sudah pasti obesitas. Itu menghadap Allah-nya lebih cepat,” ujar BGS, Rabu, 14 Mei 2025.
Kalimat itu menyebar cepat di media sosial dan memicu gelombang kritik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Banyak yang menilai ucapan BGS tidak sensitif dan cenderung menyederhanakan isu serius: obesitas dan risiko penyakit tidak menular.
Namun, di balik kalimat yang terdengar jenaka itu, terselip pesan yang lebih besar tentang arah kebijakan kesehatan Indonesia.
Klarifikasi PCO: Bahasa Populer untuk Masalah Serius
Tiga hari berselang, Hasan Nasbi, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO), angkat bicara.
Baca Juga:
Savaya Group Luncurkan Zumana, Destinasi Tepi Pantai Terbaru di Kawasan Ikonik Pantai Kuta
Dalam sebuah diskusi publik di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (17/5/2025), Hasan membela BGS.
Menurutnya, pernyataan itu bukan asal ceplos, melainkan berbasis data yang dihimpun dari Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
“Kalau beliau bilang soal lingkar pinggang itu supaya memudahkan diskusi. Kalau beliau bicara obesitas atau BMI, orang enggak paham.”
“Tapi kalau bicara ukuran celana, kita walaupun misuh-misuh, kita ukur-ukur juga,” kata Hasan.
Baca Juga:
Hasan menyatakan bahwa pesan tersebut bertujuan menggugah kesadaran masyarakat akan bahaya diabetes — penyakit yang kini menjadi momok utama sistem kesehatan nasional.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dikutip oleh Kemenkes, prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 10,9% pada kelompok usia 15 tahun ke atas, dengan kecenderungan meningkat setiap tahunnya.
Jepang Sudah Lebih Dulu: “Metabolic Law” Jadi Acuan
Hasan juga membandingkan pendekatan Indonesia dengan Jepang. Di Negeri Sakura, kampanye hidup sehat dilakukan lewat regulasi yang disebut “Metabolic Law”.
Pemerintah Jepang mengatur pengukuran lingkar pinggang secara rutin bagi warga usia 40 tahun ke atas — dengan batas maksimal 85 cm untuk pria dan 90 cm untuk wanita.
Jika melebihi batas tersebut, warga diwajibkan mengikuti program pembinaan kesehatan.
“Kalau lebih ukuran lingkar pinggangnya, misalnya laki-laki lebih dari 85, dia disuruh ikut program.”
Baca Juga:
Pabrik KT&G di Indonesia Raih Sertifikat “ISO 45001”
C&R Research, “K-Clinical Hub”, Mempererat Kemitraan di Indonesia
“Karena kalau enggak, ya enggak sehat dan enggak produktif,” ujar Hasan.
Dengan mencontoh Jepang, pemerintah Indonesia berharap dapat mengadopsi metode penyuluhan yang lebih membumi.
Alih-alih menggunakan jargon medis yang membingungkan, istilah seperti “ukuran celana” dinilai lebih relatable bagi masyarakat awam.
Di Balik Humor, Ada Strategi Komunikasi Kesehatan
Pernyataan BGS mungkin terdengar menggelitik, namun dalam konteks komunikasi publik, ia merepresentasikan strategi baru.
Direktur Promosi Kesehatan Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, dalam sebuah wawancara sebelumnya menegaskan pentingnya pendekatan komunikasi yang kontekstual.
“Bahasa kesehatan harus disampaikan dengan cara yang bisa dipahami masyarakat. Kalau terlalu teknis, pesannya tidak sampai,” ujar Nadia.
Langkah ini juga senada dengan temuan Global Obesity Observatory yang menunjukkan bahwa Indonesia memiliki salah satu pertumbuhan angka obesitas tercepat di Asia Tenggara.
Urbanisasi, pola makan tinggi gula, dan minimnya aktivitas fisik adalah biang keladinya.
Di Antara Sensasi dan Substansi
Kritik terhadap BGS menjadi pelajaran penting soal batas antara komunikasi publik dan sensitivitas sosial.
Di satu sisi, pemerintah sedang mencoba menyederhanakan isu kesehatan agar lebih mudah diterima publik.
Namun di sisi lain, pendekatan yang terlalu vulgar atau tak sensitif bisa mengaburkan tujuan utama.
Masalah obesitas bukan sekadar soal ukuran celana. Ia berkaitan erat dengan akses terhadap makanan sehat, pendidikan kesehatan, serta infrastruktur olahraga.
Jika pemerintah ingin benar-benar serius, program seperti CKG harus diimbangi dengan intervensi struktural yang menyeluruh.
Alih-alih hanya menyalahkan gaya hidup, penting pula mendorong regulasi ketat terhadap iklan makanan tak sehat, subsidi pangan sehat, dan penguatan layanan kesehatan primer.
Solusi dan Penutup
Pernyataan viral bisa menjadi momentum — asal diarahkan secara tepat.
Jika pesan “ukuran celana” mampu membuka diskusi tentang gaya hidup sehat, maka ia bisa menjadi pintu masuk.
Namun setelah pintu dibuka, langkah selanjutnya harus berbasis kebijakan yang konkret dan menyentuh akar masalah.
Komunikasi kesehatan di era digital membutuhkan strategi yang lincah: informatif, edukatif, sekaligus empatik.
Antara humor dan data, antara gaya dan isi, di situlah keberhasilan kampanye kesehatan publik ditentukan.***
Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com
Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.
Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.
Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.
Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.
Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Hutannews.com dan Mediaemiten.com
Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media On24jam.com dan Kilasnews.com
Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Haijateng.com dan Hariancirebon.com
Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center














