Home POLKAM Nasional Perang Panjang Indonesia Melawan Kemiskinan

Perang Panjang Indonesia Melawan Kemiskinan

ANYONE WHO has a burning spirit fighting poverty knows exactly how hard, expensive, and suffering lives in poverty. Siapa pun yang punya semangat membara memerangi kemiskinan tahu persis bertapa berat, mahal, dan menderitanya hidup dalam kemiskinan.

Ya, kemiskinan adalah sesuatu yang begitu berat dan mahal. Untuk Anda yang tak pernah merasakannya, tanyakan pada mereka yang hidup dan bertahan dalam kemiskinan.

dr. Gamal Albinsaid, M.Biomed

Apa itu kemiskinan? Menurut UNESCO, “Kemiskinan adalah ketika pendapatan keluarga gagal memenuhi ambang batas yang ditetapkan pemerintah yang berbeda di seluruh negara”. Selama lebih dari 1 dekade terakhir, pemerintah kita boleh berbangga telah mampu menurunkan angka kemiskinan secara bertahap.

Pada tahun 2007, kemiskinan sekitar 37 juta penduduk Indonesia atau sekitar 16,6% dari total penduduk hingga menjadi 25,95 juta penduduk Indonesia atau sekitar 9,82% dari total penduduk pada tahun 2018.

Dengan kata lain, lebih dari 11 juta orang telah berhasil meninggalkan garis kemiskinan di Indonesia. Namun, banyak lembaga menyatakan bahwa Indonesia menerapkan standar yang terlalu rendah untuk garis kemiskinan, sehingga laporan yang ada jauh lebih baik dari realita yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Hal ini mengakibatkan kita memiliki angka masyarakat hampir miskin yang sangat tinggi dan mereka berisiko tinggi jatuh ke dalam kemiskinan ketika kondisi ekonomi negara menurun.

Beberapa tahun lalu, Bank Dunia menyatakan bahwa hampir 40% dari seluruh populasi di Indonesia rentan jatuh ke dalam kemiskinan. Hal ini dikarenakan pendapatan mereka hanya sedikit di atas garis kemiskinan. Apa artinya? 1 dari 10 orang Indonesia miskin dan 4 dari 10 orang Indonesia hampir miskin.

Pada tahun 2018, pemerintah Indonesia menetapkan garis kemiskinan pada pendapatan per kapita bulanan sebesar Rp 401.220 atau 13.374 per hari. Bisa dibayangkan, jika masyarakat kita berpenghasilan Rp 13.500 maka sudah tidak termasuk masyarakat miskin. Kebutuhan apa saja yang bisa masyarakat kita penuhi dengan pendapatan tersebut? 

Bila dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, angka ini terbilang rendah. Sebagai gambaran, Bank Dunia menetapkan US$ 1.25 per hari sebagai garis kemiskinan. Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa saat ini banyak masyarakat miskin di Indonesia yang tidak diakui miskin jika kita menggunakan standar yang sangat rendah ini.

Ini tidak manusiawi, karena ketika pemerintah menentukan masyarakat masuk dalam kategori miskin, pemerintah bertanggung jawab secara konstitusional pada pemenuhan kebutuhan hidup dasar mereka. Jika standar garis kemiskinan terlalu rendah, betapa banyak masayarakat yang sebenarnya miskin, namun kehilangan hak – haknya.

Selain besarnya jumlah kemiskinan, kita juga memiliki masalah pada pemerataan kesejahteraan. Sebagai gambaran, bagian timur Indonesia memiliki tingkat kemiskinan relatif yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan penduduk di provinsi tersebut.

Jika kita lihat dari perpektif kemiskinan relatif, maka pada provinsi Papua, Papua Barat, dan NTT hampir seperempat masyarakatnya tergolong masyarakat miskin. Namun, jika kita melihat angka kemiskinan absolut, menunjukan bahwa Jawa Timur memiliki angka kemiskinan tertinggi sebesar 4,41 juta penduduk.

Hal yang tidak kalah pentingnya untuk kita kaji dan perhatikan adalah perbandingan angka kemiskinan di desa dan kota. Pada tahun 2018, 7,02% dari masyarakat kota dan 13,20% dari masyarakat desa dikategorikan hidup di bawah garis kemiskinan. Data dari BPS tahun 2018 juga menunjukkan bahwa sekitar 25,95 penduduk miskin, sekitar 10,14 juta orang berada di kota, dan sekitar 15,81 juta orang berada di desa.

Hal ini memberikan tantangan tersendiri bagi pemerintah dan berbagai lembaga internasional dalam mengentaskan berbagai masalah kemiskinan.

Pertanyaan yang kemudian muncul, apa penyebab utama kemiskinan di Indonesia? Banyak kajian menyebutkan bahwa keterbatasan pendidikan, rendahnya kualitas sumber daya manusia, dan keterbatasan lapangan kerja adalah akar utama kemiskinan di Indonesia.

Pertama, adalah keterbatasan pendidikan sebagai akibat dari banyaknya orang yang putus sekolah dikarenakan biaya pendidikan. Disamping itu, tidak sedikit pula kejadian putus sekolah dikarenakan tuntutan untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, untuk menekan kemiskinan, kita butuh political will di bidang pendidikan.

Kedua, adalah kualitas sumber daya manusia kita yang masih tertinggal. Hal itu tercermin dari Global Human Capital Report kita yang menempatkan Indonesia di urutan 87 dari 157 negara.

Ketiga, adalah kurangnya lapangan kerja juga dianggap menjadi penyebab kemiskinan di Indonesia. Lapangan kerja di Indonesia tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia. BPS menunjukkan bahwa pada Agustus 2018 pengangguran kita mencapai 5,34% dari total angkatan kerja sebesar 131,01 juta orang.

Melambatnya penciptaan lapangan kerja hari – hari ini adalah tantangan besar untuk mengurangi kemiskinan di Indonesia. Hal ini dikarenakan pertumbuhan lapangan kerja saat ini lebih lambat dari pertumbuhan jumlah penduduk.

Kita sebagai bangsa tidak boleh meremehkan kondisi ini, sebagaimana pesan Marcus Aurelius bahwa “Poverty is the mother of crime”, dampak dari kemiskinan ini adalah kriminalitas, konflik, dan berbagai permasalahan horizontal lain. Oleh karena itu, pembukaan lapangan kerja harus menjadi agenda prioritas bagi pemimpin kita kelak, siapapun itu.

“Tidak boleh ada kemiskinan di bumi Indonesia merdeka” pesan lantang sang proklamator untuk kita, Bung Karno. Ketika kita mengumandangkan kemerdekaan, sejatinya kita memberikan sebuah pesan bahwa bangsa Indonesia menyatakan perang melawan kemiskinan.

Namun, hari ini setelah lebih dari 70 tahun berlalu, kita menyaksikan kemiskinan menang, janji kemerdekaan tak tertunaikan, dan kita Indonesia kalah dalam perang panjang melawan kemiskinan. Sejatinya kemiskinan itulah musuh bersama kita.

Oleh karena itu, hari ini, saatnya kita mengerahkan semua sumber daya kita dan kemampuan kita dalam bingkai persatuan untuk bersama-sama memerangi kemiskinan. Kita harus yakin kawan-kawan bahwa bonus demografi, nilai-nilai ke-Indonesiaan, dan kerja nyata kita hari ini adalah tiga kunci utama untuk menjadikan kita mampu menghapuskan kemiskinan di bumi Indonesia.

[Oleh : dr. Gamal Albinsaid, M.Biomed. Penulis adalah juru bicara BPN Prabowo-Sandi. Tulisan ini juga dipublikasikan di media Opiniindonesia.com]


Hubungi redaksihello.id@gmail.com atau 0878-15557788, jika kegiatan (korporasi atau institusi) Anda ingin diberitakan di media ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Instagram Tambah Fitur Laporkan Hoax

Hello.id, Jakarta - Instagram menambah fitur untuk melaporkan informasi yang salah pada platform berbagi foto dan video tersebut, sebagai upaya tambahan untuk...

Ganti Baterai iPhone Tak Bisa di Sembarang Toko

Hello.id, Jakarta - Apple memberi penjelasan mengapa baterai iPhone tidak bisa diganti di toko yang bukan gerai resmi atau yang bermitra dengan...

Traveloka, Pegipegi dan Tiket.com Beri Diskon Kemerdekaan

Hello.id, Jakarta - Biro perjalanan dalan jaringan atau online travel agent berlomba-lomba memberikan promosi tiket transportasi hingga hotel untuk menyambut Hari Kemerdekaan...

Tes DNA Bukan Hanya untuk Cari Hubungan Keluarga

Hello.id, Jakarta - Pengujian asam deoksiribonukleat atau akrab dikenal DNA seringkali dipahami sebagai salah satu prosedur untuk mengetahui riwayat keturunan, padahal pengujian...

Pakar : Temuan Akar Bajakah Melawan Sel Kanker Tahap Awal

Hello.id, Jakarta - Pakar medis dari Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Provinsi DKI Jakarta Venita berpendapat hasil temuan para siswa asal Palangkaraya,...

Hubungi redaksihello.id@gmail.com atau 0878-15557788, jika kegiatan (korporasi atau institusi) Anda ingin diberitakan di media ini.